TKW Di Hongkong Ini Makan Babi Kecap, Karena Enak Apakah Bisa Jadi Halal?

oleh -
Belum lama ini, viral di medsos ada seorang TKW dari Hongkong berhijab yang bernama Arsy Hallawi dengan bangganya makan daging babi kecap, sementara dia adalah seorang muslimah. Dari penuturan yang disampaikan dalam video itu (videonya bisa Anda lihat di akhir artikel ini), nampak jelas bahwa ilmu agama yang dia pahami sangatlah dangkal. Pada video yang awalnya diunggahnya di Facebook tersebut, tanpa rasa canggung dan malu sambil menyantap potongan daging babi kecap yang telah dibumbuinya, dia mengatakan bahwa daging babi itu ternyata sangat enak. Malah lebih enak dari daging kambing ataupun sapi.

Di sini saja sudah jelas nampak kedangkalan ilmu fiqihnya terhadap keharaman daging babi. Ketahuilah bahwa Allah mengharamkan daging babi itu bukan karena daging babi itu tidak enak ataupun tidak sehat. Tapi karena itu adalah perintah langsung dari Allah yang wajib kita taati, terlepas dari apakah daging babi itu enak atau tidak enak, sehat atau tidak sehat, mengandung cacing pita atau tidak mengandung cacing pita, dan seribu satu alasan lainnya….. apapun alasannya, status daging babi itu tetaplah haram.

Malah seandainya daging babi itu dimasak dengan bumbu-bumbu super lezat yang didatangkan dari negeri Arab sekalipun dan dimasak oleh chef terbaik di dunia sehingga terciptalah hidangan daging babi kecap yang maknyus dan terlezat di dunia, bukan berarti status daging babi itu berubah menjadi halal.

kenapa babi itu diciptakan haram walaupun babi kecap lezat
Salah satu kebiasaan babi adalah suka memakan bangkai kawannya sendiri

Seandainya hewan babi itu dipelihara dalam sebuah kandang mewah berlantaikan keramik yang super bersih, lalu diberi makan sayuran dan makanan sehat bergizi lainnya, setiap hari dimandikan dengan sabun antiseptik, diberi parfum dan dijaga kesehatannya 24 jam oleh dokter hewan sehingga hewan itu tidak pernah sakit dan selalu berada dalam kondisi super bersih sepanjang hidupnya, bukan berarti statusnya berubah menjadi halal dan boleh dimakan dijadikan babi kecap. Malah seandainya tujuh turunannya pun diberlakukan hal yang sama, tetap tidak akan merubah statusnya menjadi babi yang halal. Dia tetaplah seekor babi dan babi itu haram untuk dimakan!

Jadi sekali lagi, halal atau haramnya daging babi itu bukan terletak pada rasanya, bentuknya, warnanya, baunya dan lain sebagainya, tapi statusnya yang telah ditetapkan Allah sebagai hewan yang Allah haramkan untuk dimakan hamba-Nya. Keharaman hewan babi bukan terletak pula pada pola makan hewan babi yang menjijikkan itu yang suka memakan sampah maupun kotorannya sendiri, tapi keharamannya terletak pada vonis yang telah ditetapkan Allah di dalam Al-Qur’an. Tidak tanggung-tanggung, Allah menyebutnya sebanyak tiga kali dalam surat yang berbeda-beda bahwa babi itu haram. Yang pertama dalam surat Al- Baqarah ayat 173, yang kedua dalam surat An-Nahl ayat 115 dan yang ketiga dalam surat Al-Maidah ayat ke 3. Itu artinya apa kok sampai Allah menyatakan sampai tiga kali bahwa babi itu haram? Silahkan pikirkan sendiri….!

Berikut petikan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Maidah ayat 3 tentang keharaman babi tersebut,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.”
(QS. Al-Maidah: 3).

Dalam surat Al-Baqarah, Allah subhanahuwata’ala juga berfirman:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al- Baqarah: 173).

Dan di dalam surat An-Nahl ayat 115, Allah juga menegaskan sekali lagi tentang keharaman babi:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nahl: 115).

Sekarang, sebagai seorang muslim kita wajib percaya dan mengimani bahwa apa yang telah ditetapkan Allah untuk kita hamba-Nya pasti ada hikmahnya. Allah dalam menghalalkan sesuatu juga pasti ada hikmahnya. Termasuk dalam mengharamkan babi ini, juga ada hikmahnya dibalik itu.

Segala sesuatu yang Allah halalkan, itu pasti baik untuk kita. Sebaliknya, segala sesuatu yang Allah haramkan, itu pasti buruk untuk kita. Karena Allah menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk, sebagaimana yang Allah firmankan di dalam surat al-a’raf ayat 157 yang berbunyi:

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157)

Kenapa Allah Menciptakan Babi dan Mengharamkannya?

Kalau ada yang masih nyeleneh dan bertanya, kenapa Allah menciptakan babi dan mengharamkannya untuk kita makan? maka jawabnya adalah karena Allah itu Tuhan, Rabb yang Maha Tinggi dan kita ini hanyalah hamba ciptaan-Nya yang terbentuk dari setetes mani yang hina.

Allah menciptakan kita bukan untuk menanyakan apa yang telah Allah lakukan. Tapi justru yang ditanya itu adalah kita, apa yang telah kita lakukan terhadap apa yang telah Allah perintahkan…. Yang ditanya itu justru kita, apakah kita taat dan patuh atau tidak, terhadap apa yang Allah perintahkan kepada kita. Tugas kita sebagai hamba-Nya (kalau masih mau dicap sebagai orang yang benar-benar beriman) adalah, sami’naa wa atho’naa, yaitu “kami dengar dan kami taati”, sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 51:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nuur: 51)

Jadi sebagai seorang muslim, kita tinggal mendengar dan mematuhi apa yang Allah perintahkan kepada kita. Bukan balik menanyakan kenapa Allah melakukan ini dan melakukan itu, kenapa begini kenapa begitu….

Kalau Allah memerintahkan sesuatu itu disertai dengan penjelasan dan alasan, alhamdulillah kita pun dengar dan ta’ati. Tapi kalau Allah memerintahkan sesuatu itu tidak Allah sertai dengan penjelasan dan alasannya, ya kita juga tidak boleh ngeyel dan harus tetap dengarkan dan menta’atinya juga, karena tidak semua perintah Allah itu disertai dengan penjelasan dan alasannya.

Banyak juga hukum-hukum yang Allah perintahkan di dalam dien ini yang Allah tetapkan tidak disertai dengan alasannya. Malah banyak hukum-hukum Allah yang tidak bisa dilogika-logikan, karena Islam dibangun bukan di atas logika, tapi di atas keimanan.

Kalau hukum yang ditetapkan Allah ‘azzawajalla itu sesuai dengan logika, maka kita terima. Tapi kalau tidak sesuai dengan logika, juga kita terima dan ta’ati. Contohnya banyak sekali, seperti peristiwa isra’ mi’raj, azab kubur, surga dan neraka, roh, alam akhirat dan sebagainya.

Atau sebagai contoh sederhana saja yang sering kita lakukan sehari-hari seperti berwudhu. Allah mewajibkan kita untuk berwudhu sebelum sholat dan kalau kita kentut maka wudhu pun batal dan kita diperintahkan untuk berwudhu kembali. Nah, kalau kita bermain logika di dalam agama ini, tentu kita bertanya, kenapa kentut yang keluar kok yang dicuci muka, tangan, kepala dan kaki? Kenapa tidak (mohon maaf) dubur kita? Toh yang kotor tempat keluar angin itu kan di dubur? (logika mulai bermain dan iblis pun mulai mengipasi….)

Jawabnya simpel saja, tidak ngawur dan asal-asalan seperti orang-orang berpemahaman liberal. Ini perintah Allah dan Rasulnya… ya kita tinggal taati… perkara yang kotor itu di dubur kenapa yang dicuci itu muka, itu bukanlah urusan kita. Urusan kita hanya sami’naa wa atho’naa… kami dengar dan kami patuh ya Allah…

Nah, sama dengan urusan babi kecap tadi… Allah telah mengharamkan babi bagi kita ummat Islam, maka jawab kita hanya satu… sami’naa wa atho’naa… kami dengar dan kami patuh ya Allah…

Semoga yang belum puas dengan artikel ini diberi Allah hidayah. Dan bagi yang sudah paham dan mengerti diberi Allah kekuatan untuk tetap istiqomah dalam menjalaninya… sampai maut menjemput dan kita semua bertemu di telaga Kautsar… sebuah telaga tempat dimana berkumpulnya ummat Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di akhirat nanti sambil menunggu hisab ditegakkan.

…..

Berikut video seorang TKW Hongkong bernama Arsy Hallawi dengan babi kecapnya:

Dan setelah dihujat warganet, akhirnya TKW ini pun minta maaf, namun sayangnya minta maafnya bukan kepada Allah, tapi kepada warganet dan sesama TKI. Semoga TKW ini sadar dan diberi hidayah bahwa dia berbuat dosa bukan kepada manusia, tapi kepada Allah Subhanahuwata’ala, sehingga yang dibutuhkan bukanlah permintaan maaf, tapi rasa penyesalan dan bertobat kepada Allah untuk tidak mengulanginya kembali. Kita do’akan semoga dia diberi hidayah untuk segera bertobat, bukan meminta maaf… dan bila dia telah bertobat, semoga Allah menerima tobatnya, aamiin.

No More Posts Available.

No more pages to load.