Soal Pemimpin Hebat Dunia, Rizal Ramli: Ada Yang Nggak Doyan Baca Dikelilingi ABS, Ya Gagap

oleh -
Soal Pemimpin Hebat Dunia, Rizal Ramli: Ada Yang Nggak Doyan Baca Dikelilingi ABS, Ya Gagap
foto/dok

Cerita Rizal Ramli Soal Pemimpin Hebat Dunia: Ada Yang Nggak Doyan Baca Dikelilingi ABS, Ya Gagap

JAKARTA, Radar Ampera – Seorang pemimpin tidak melulu harus pintar dalam segala bidang, terpenting rajin untuk membaca demi menutupi kekurangan dan pandai memilih orang-orang kompeten sebagai lingkaran utama.

Begitu kira-kira maksud dari tokoh nasional DR. Rizal Ramli dalam mengurai sepak terjang para pemimpin top dunia.

Mulanya dia bercerita mengenai Presiden ke-35 Amerika Serikat John F. Kennedy (JFK) dan Presiden pertama RI Sukarno yang memiliki kemiripan gaya. Keduanya, sambung Rizal Ramli, menjadi pemimpin hebat tidak lepas dari para penasihat pintar yang mengelilingi.

“JFK waktu kuliah biasa-biasa saja, tapi advisor-advisornya top. Ada pimpinan yang merasa “hebat”, padahal males baca, advisor-advisor hanya hadiah pernah bantu. Ya jadinya gagap, apalagi krisis,” ujar Rizal Ramli sembari mengkritik gaya kepemimpinan pemimpin lain yang tak disebutkan namanya, kepada redaksi, Jumat (10/7/2020).

Sorot pandang Rizal Ramli juga tertuju pada Presiden ke-37 AS, Richard Nixon yang memiliki kepiawaian dalam politik dan masalah dalam negeri. Tapi ada satu kekurangan yang dimiliki Nixon, yaitu buta politik luar negeri.

Alhasil dia berusaha menutup kekurangan itu dengan mengajak Henry Alfred Kissinger bergabung dalam kabinet sebagai Menteri Luar Negeri.

“Dia sampai ngemis 3 kali minta Kissinger gabung. Ternyata legacy Nixon terbesar, selain Watergate, adalah politik luar negeri, termasuk ketemu Mao dan mendorong China buka diri,” urainya.

Sementara untuk urusan dalam negeri, Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu mengambil contoh Presiden kedua RI Soeharto. Sebagai seorang jenderal perang, kapasitas Soeharto sudah teruji. Tapi, Soeharto lemah di bidang ekonomi dan sosial.

Atas alasan itu, dia memilih orang-orang kompeten agar bisa mengimbangi kekurangannya itu.

“Memilih Wijoyo dkk untuk membantu dalam bidang ekonomi, Prof. Selo Soemarjan & Prof. Koentjoroningrat untuk beri nasihat di bidang sosiologi dan antrophologi,” terangnya.

“Ada yang ndak doyan baca, dikitari ABS (asal bapak senang) & KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), ya gagap, ambyar,” sindir Rizal Ramli lagi tanpa terang menunjuk hidung.

Selain dikelilingi orang kompeten, seorang pemimpin juga harus rajin membaca. Menurutnya, para pemimpin pergerakan Indonesia tidak akan berhasil tanpa memiliki ketertarikan pada membaca.

Pemimpin-pemimpin pergerakan Indonesia seperti Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Natsir. Alisastro, Syahrir dkk rajin membaca belajar pengalaman dari seluruh dunia, Agus Salim dan banyak lain bahkan otodidak. Karakter mereka kuat karena ditempa perjuangan yang panjang dan sense of mission yang kuat,” sambungnya.

“Saat Sukarno dipenjara di Banceui, dia menulis surat kpd Gubernur Jendral supaya dipindahkan ke penjara Sukamiskin, penjara khusus untuk Belanda, hanya karena di situ banyak buku dan perpustakaan. Bung Karno, insinyur yang banyak baca. Ketika dibuang ke Ende, Flores, makin banyak yang dibaca,” tutup mantan Menko Kemaritiman itu. (rmol)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *