Pemutarbalikan Sejarah Islam [2]

oleh -
Fenomena Pemutarbalikan Sejarah
Memutarbalikan sejarah Islam merupakan tindakan tercela yang jauh dari nilai-nilai kejujuran dan amanah, bahkan sangat lekat dengan kedustaan. Perangai buruk yang sangat dibenci dan dilarang melalui lisan Rasulullah صلي الله عليه و سلم yang mulia:

“Wajib bagi kalian untuk berlaku jujur karena kejujuran itu akan mengantarkan kepada Al-Jannah (surga). Tidaklah seseorang senantiasa berlaku jujur dan bersungguh-sungguh dengan kejujuran tersebut hingga dicatat di sisin Allah سبحانه وتعالى sebagai seorang yang jujur. Hati-hati lah kalian dari kedustaan karena kedustaan itu akan mengantarkan kepada kejelekan dan kejelakan akan mengantarkan kepada An-nar (neraka). Tidaklah seseorang senantiasa berdusta dan bersungguh-sungguh dengan kedustaan tersebut hingga dicatat di sisi Allah عز وجلsebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim No. 4721, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه ).

Para pembaca yang mulia, berdasarkan hadits di atas dapatlah disimpulkan bahwa pemutarbalikkan sejarah Islam dan penempatannya tidak pada tempatnya –  yang merupakan kedustaan – akan mengantarkan kepada kejelekan. Suatu kejelekan yang berdampak terhadap sejarah Islam itu sendiri, bahkan terhadap aqidah umat Islam. Dengan pemutarbalikan sejarah Islam, validitas suatu berita tak bisa dipertanggungjawabkan lagi. Sejarah Islam pun akhirnya berbalik dari fakta yang sebenarnya. yang baik  nampak buruk, sedangkan yang buruk nampak baik. Dampaknya terhadap aqidah umat Islam sendiri tentu demikian besar. Di antaranya, meruaknya berbagai keyakinan batil pada umat yang disebabkan oleh pemutarbalikkan sejarah Islam tersebut. Keyakinan batil, baik yang berkaitan langsung dengan prinsip aqidah Islam, maupun yang berkaitan dengan sikap al-wala’ wal bara’ (kecintaan dan kebencian) terhadap suatu kaum atau individu tertentu. Suatu fenomena buruk yang tak bisa diabaikan begitu saja.

loading…

Namun demikian, ada satu hal penting yang tak boleh dilupakan kala menyikapi fenomena buruk tersebut, yaitu Allah عز وجل yang Maha Hakim lagi Maha Rahim tak membiarkan umat Islam – dalam setiap generasinya – lengang dari para ulama yang selalu siaga membela agama Allah عز وجل dari pemutarbalikkan pengertian dien Islam yang dilakukan oleh para ekstrimis, kedustaan orang-orang jahil. Maka dari itu, tak heran manakala muncul suatu makar terhadap Islam dan umat Islam (termasuk pemutarbalikkan sejarah Islam) bermunculan pula para ulama dari umat ini yang tampil membela al-haq dan membongkar segala makar tersebut. Berbagai karya tulis mereka pun menjadi saksi terbaik atas semua itu.


Contoh Kasus Pemutarbalikan Sejarah dan Penempatannya Yang Tidak Tepat
Di antara contoh kasus pemutarbalikkan sejarah Islam dan penempatannya yang tidak pada tempatnya adalah sebagai berikut:

1. Kehormatan Ummul Mukminin Aisyah yang ternodai.
Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها merupakan  istri Rasulullah صلي الله عليه و سلم yang mulia. Kecintaan dan keridhaan Rasulullah صلي الله عليه و سلم kepada beliau tak pernah padam selama hayat masih dikandung badan. Namun gerombolan kaum munafik Madinah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul laknatullah (yang hidup di masa Rasulullah صلي الله عليه و سلم ) benar-benar telah mencemarkan keharuman nama Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها dan menodai kehormatannya. Dengan penuh kekejian mereka tebarkan berita bohong (haditsul ifki) bahwa Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها telah berbuat zina dengan sahabat Shafwan bin Mu’aththal رضي الله عنه, sepulang dari pertempuaran Bani Mushthaliq.

Allah سبحانه وتعالى Yang Maha mengetahui lagi Maha Pengasih tak membiarkan orang-orang rendahan tersebut leluasa berkata tanpa berkaca dengan menabar kezaliman terhadap istri Rasul-Nya صلي الله عليه و سلم yang mulia. Allah سبحانه وتعالى turunkan beberapa ayat dari surah An-Nur yang mengabadikan kesucian diri Aisyah رضي الله عنها sekaligus kebusukan hati para penyebar berita bohong (haditsul ifki) tersebut. Hukuman keras pun akhirnya Allah عز وجل timpakan kepada mereka semua, sebagaimana dalam firman-Nya :

loading...

.    وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاء فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِن بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ


“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur : 4-5)

Namun demikian, orang-orang yang berhati sakit dari kalangan Syi’ah Rafidhah tak berakal sehat. Mereka justru melanjutkan gerakan fitnah yang dilakukan gerombolan kaum munafik tempo dulu itu. Dengan kejinya mereka sematkan gelar pelacur terhadap Ummul mukminin Aisyah رضي الله عنها yang mereka abadikan dalam kitab sesat mereka bernama Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal, karya Ath-Thusi laknatullahu’alaih hal-57-60 dan yang lainnya. Mereka putarbalikkan sejarah Islam ini. Mereka tak mau tahu, walaupun telah nyata apa yang mereka lontarkan bertentang dengan kitab suci Al-Qur’an. Karena memang menurut aqidah mereka yang sesat itu, Al-Qur’an yang ada pada umat Islam saat ini telah terjadi berbagai perubahan / penyimpangan dan tak lagi sebagai kitab suci.[1]
Wallahul musta’an.
(bersambung ke: Apakah Abu Thalib Seorang Muslim?)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *