Antara Sadiq Khan, Ahmed Aboutaleb dan Ahok

oleh -
Baru-baru ini dunia politik internasional digemparkan oleh terpilihnya seorang muslim menjadi pemimpin sebuah ibu kota negara Eropa. Tidak tanggung-tanggung, ibu kota negara Inggris, London… Dialah Sadiq Khan, seorang pria muslim kelahiran Tooting, kawasan London bagian Selatan. Dan sejak tanggal 7 Mei 2016 lalu, dia resmi dilantik sebagai walikota London.

Yang uniknya, Sadiq bukan berasal dari keluarga mampu, malah cendrung hidup pas-pasan dan miskin. Ayahnya (Amanullah) bekerja sebagai sopir bus di kota London dan ibunya (Sehrun) hanyalah seorang tukang jahit. Dan yang lebih istimewa lagi, Sadiq juga bukan dari keturunan asli Inggris dan tidak ada setetes darah Britania pun dalam tubuhnya. Ayahnya asli Pakistan yang merantau sebagai imigran ke Inggris.

Sadiq Khan bukanlah walikota muslim pertama di kawasan Eropa. Sebelumnya ada Ahmed Aboutaleb, walikota Rotterdam, Belanda yang juga seorang muslim. Dan yang lebih hebatnya, Ahmed Aboutaleb bukan kelahiran Belanda, tapi asli kelahiran Maroko. Malah dia menginjakkan kakinya di negeri itu saat dia masih remaja. Dan tidak lama setelah itu, dia terpilih menjadi walikota Rotterdam, kota terbesar kedua di Belanda.

Sebenarnya masih ada beberapa tokoh muslim lagi yang pernah menjadi walikota di negara yang mayoritas penduduknya non muslim. Diantara mereka adalah:

– Mohammed Hameeduddin, Walikota Teaneck, Bergen County, New Jersey, AS pada 2010-2014., berasal dari Hyderabad, India.

– Muhammad Abdullah Salique, Walikota Tower Hamlets, London Raya, pada 2008-2009, keturunan Bangladesh.

– Jilani Chowdhury, Walikota Islington, Inggris pada 2012, berasal dari Bangladesh.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, kok bisa ya seorang muslim dipilih menjadi pemimpin oleh mayoritas peduduk non muslim di sebuah kota besar? Dimana letak istimewanya? Apa mereka yang non muslim tidak takut di-islamkan oleh pemimpin muslim yang mereka pilih tersebut nanti? Dan berbagai pertanyaan lain yang terlintas di benak kita….

Ternyata, disinilah letak istimewanya pemimpin muslim itu, terutama yang telah ditunjukkan Sadiq Khan dan Ahmed Aboutaleb, sehingga mereka dipercaya oleh mayoritas penduduk yang beda keyakinannya dengan mereka sebagai pemimpin.

Sadiq dan Ahmed saat diawal kampanyenya sama-sama menunjukkan sebagai sosok pemimpin yang tidak bermudah-mudah dalam mengobral janji politik. Janji yang disampaikan pun janji-janji yang rasional yang masuk akal. Janji yang tidak diucapkan secara spontan saat di atas mimbar kampanye atau saat berkunjung ke suatu tempat, tapi janji yang memang sudah digodok dengan matang dengan tim suksesnya sebelum ditawarkan ke publik.

Selain itu, Sadiq dan Ahmed tidak pernah mengintimidasi rakyatnya, apalagi sampai menuduh rakyat yang mengadu kepadanya dengan makian, dan seterusnya menuduhnya sebagai penipu. Kedua pemimpin muslim itu tidak pernah mengeluarkan kata-kata kotor yang tidak pantas diucapkan oleh seorang pemimpin seperti kata-kata “anjing”, “babi”, “taik” dan sebagainya. Dalam setiap dialog dengan siapapun, mereka tetap bisa menguasai diri dan mengeluarkan kalimat-kalimat yang sopan.

Antara Sadiq Khan dan Ahmed Aboutaleb, tentu tidak sama dengan Ahok. Tidak perlu dibahas lah bagaimana dengan walikota Jakarta satu ini. Seorang walikota di sebuah ibu kota negara muslim terbesar di dunia, Indonesia. Yang mana, mayoritas penduduk di kota tersebut adalah muslim, tapi dipimpin oleh pemimpin non muslim. Dan beginilah gaya kepemimpinannya. Kita sudah tau semua. Ternyata beda ya bila pemimpin muslim menjadi pemimpin penduduk mayoritas non muslim dengan pemimpin non muslim yang menjadi pemimpin mayoritas penduduk muslim?

Dan bicara tentang memilih seorang pemimpin, hal tersebut sudah digariskan dalam agama kita, bahwa haram hukumnya memilih pemimpin yang bukan muslim. Bukan di dalam hadits saja, bahkan tertulis jelas hukumnya di dalam Al-Qur’an:

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
(QS. Al Maidah: 51)

Dalam ayat lain Allah ‘azzawajalla juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.”
(QS. Al Mumtahanah: 1)

Dalam ayat di atas sudah jelas ketetapan Allah akan haramnya memilih pemimpin non muslim, baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani. Bahkan Allah Subhanahuwata’ala mengancam hamba-Nya yang memilih orang non muslim sebagai pemimpinnya itu sebagai orang-orang yang termasuk golongan mereka. “….Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka….”

Sekarang, apakah Antum sebagai seorang muslim ingin dimasukkan Allah Subhanahuwata’ala ke dalam golongan orang-orang yang antum pilih, yakni golongan Yahudi dan Nasrani? Silahkan pikir dan pilih sendiri….
Berhati-hatilah dalam perkara yang kelihatannya kecil ini tapi besar akibatnya di akhirat nanti…. Allahulmusta’an…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *