Aneh, Pendeta Ini Menjadikan Ular Sebagai Media Dalam Beribadah Kepada Tuhannya

oleh -
i Middleborough, Kentucky – Amerika Serikat, ada keluarga pendeta yang memimpin sebuah gereja disana. Gereja itu bernama “Full Gospel Tabernacle in Jesus Name”. Uniknya, keluarga pendeta ini punya cara tak lazim dalam memandu jamaahnya saat beribadah di gereja. Dia menggunakan ular sebagai media yang dia percayai bisa sebagai wasilah atau perantara kepada Tuhan dalam setiap ibadah. Ular yang digunakan juga bukanlah ular sembarangan, tapi ular berbisa yang sangat mematikan. Dan dalam setiap prosesi ibadah mereka, ular-ular ini selalu dilibatkan sampai ada yang kesurupan dalam prosesi ibadah ini.

Metode ibadah menggunakan media ular ini sudah dilakukan oleh keluarga pendeta ini sejak turun-temurun dan sekarang sudah generasi yang ke empat. Oleh sebab itu, banyak orang menjuluki keluarga pendeta ini sebagai “pendeta ular”. Yah, karena gereja yang mereka pimpin punya keunikan tersendiri dibandingkan gereja-gereja yang lain, yakni pada ular yang digunakan.

Namun anehnya, walaupun mereka menyanjung ular sebagai binatang suci yang bisa digunakan sebagai media ibadah, justru ular-ular ini yang membunuh keluarga pendeta ini. Sebelumnya sang kakek bernama pendeta Mack Wolford mati akibat digigit ular yang dia ibadahi saat prosesi ibadah dilakukkan di gerejanya.  Dan sekarang gereja tersebut diteruskan oleh anaknya bernama pendeta Jamie Coots. Dan belum lama ini, pendeta ini juga digigit ular yang dia ibadahi. Dia pun harus tewas oleh ular yang dia puja sendiri, walaupun sebelumnya salah satu jarinya harus dipotong karena membusuk akibat bisa ular yang mengigitnya. Kini gereja yang dikelola oleh sang anak pendeta Jimie Coots diteruskan oleh sang anak yang juga seorang pendeta bernama Andrew Hamblin. Namun ia tetap melanjutkan tradisi nyeleneh ini dalam kegiatan ibadah di gereja yang ia kelola, yakni menggunakan hewan ular saat proses ibadah dilakukan. Kapankah generasi ke tiga sang “pendeta ular” ini akan tewas juga sebagaimana kakek dan ayahnya? kita tunggu saja beritanya….

pendeta ular

Bagi kita umat Islam, apa yang dilakukan oleh para pendeta di Kentucky ini hampir sama dengan apa yang kita istilahkan “bid’ah” dalam agama kita, yakni mengada-adakan sesuatu yang tidak pernah ada dalam ajaran agama kita. Jadi sesuatu yang tidak pernah diajarkan dalam agama kita dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wasallam, pada hakekatnya adalah terlarang untuk dilakukan. Kenapa? karena itulah yang dinamakan Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam sebagai “bid’ah”, yakni melakukan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu’alahi wasallam. Hal ini karena Islam ini sudah sempurna, tidak perlu ditambah dan tidak perlu dikurangi. Sudah sempurna karena Allah Subhanahuwata’ala sendiri yang mengkhabarkannya di dalam firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”
(QS. Al Ma’idah: 3).

Oleh karena Islam itu sudah sempurna, maka tidak dibutuhkan “kreatifitas” di dalam Islam, apakah itu dengan cara mengada-adakan sesuatu perkara yang baru ataupun mengurang-ngurangi sesuatu perkara yang sudah ditetapkan.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

أنه قد أكمل لهم الإيمان، فلا يحتاجون إلى زيادة أبدًا، وقد أتمه الله عز ذكره فلا ينقصه أبدًا، وقد رضيه الله فلا يَسْخَطه أبدًا.

“Allah telah menyempurnakan Islam, sehingga mereka (umat Islam) tidak perlu lagi menambah ajaran Rasul (selamanya) dan Allah pun telah membuat ajaran Islam itu sempurna sehingga jangan sampai dikurangi (selamanya juga). Jika Allah telah ridho, maka janganlah ada yang murka dengan ajaran Islam (selamanya) .
[Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari dalam kitab tafsirnya.]

Ketika Imam Malik rahimahullah membicarakan ayat di atas, beliau juga menyinggung bahaya bid’ah ini. Beliau berkata,

مَن ابْتَدَعَ في الإِسلام بدعة يَراها حَسَنة ؛ فَقَدْ زَعَمَ أَن مُحمّدا – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- خانَ الرّسالةَ ؛ لأَن اللهَ يقولُ : { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } فما لَم يَكُنْ يَوْمَئذ دينا فَلا يكُونُ اليَوْمَ دينا)

“Barangsiapa yang berbuat bid’ah dalam Islam dan ia menganggapnya hasanah (baik), berarti dia telah mengklaim bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianati risalah ini. Karena Allah telah berfirman (yang artinya), “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu …” Jika di saat Rasul hidup, sesuatu bukanlah termasuk ajaran Islam, maka saat ini juga bukanlah ajaran Islam.”
[Disebutkan oleh Asy Syatibi dalam Al I’tishom.]

Oleh sebab itu wahai saudaraku seiman, janganlah kita melakukan sesuatu dalam agama kita sebagaimana yang dilakukan pendeta agama Kristen di atas. Mereka melakukan sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh Yesus atau Nabi Isa ‘alaihissalam, yakni beribadah menggunakan hewan ular sebagai perantaranya. Sungguh ini merupakah perbuatan tercela dan menyelisihi syariat yang dibawa Nabi Isa ‘alaihissalam. Begitu juga kita di dalam agama kita. Marilah kita menjauhi perkara baru yang diada-adakan yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. Hal ini karena perkara yang baru itu adalah bid’ah dan sungguh bid’ah itu adalah suatu kesesatan, sebagaiman hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”
(HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718).

Begitu pula dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Hati-hatilah dengan perkara baru dalam agama. Karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”
(HR. Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, An Nasa-i no. 46. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

CATATAN:
Banyak kaum muslimin kita yang mengatakan, kalau bid;ah itu sesat, kalau begitu kita tidak boleh naik haji pakai pesawat terbang dong, karena pesawat terbang itu tidak pernah ada di zaman Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. Begitu juga kita tidak boleh naik mobil, pakai micropohone di masjid-masjid dan sebagainya.

Jawab:
Perlu dipahami bahwa yang dimaksud perkara bid’ah itu adalah perkara khusus dalam urusan ibadah, bukan urusan duniawiyah seperti teknologi dan sebagainya. Urusan pesawat terbang, handphone, radio, internet, mobil dan sebagainya, itu bukanlah urusan ibadah, namun perkara duniawiyah yang bisa digunakan untuk menunjang ibadah kepada Allah. Misalnya mic dipakai sebagai media pengeras suara di masjid. Mobil digunakan untuk meingankan langkah pergi ke masjid. Pesawat terbang dipakai untuk mempercepat sampai saat pergi ke Makkah untuk naik haji. Semua benda-benda itu dan teknologi lainnya adalah perkara duniawiyah yang tidak dimaksudkan sebagai bid’ah, karena pengeritan bid’ah itu khusus untuk perkara berbentuk amalan atau ibadah, bukan hal-hal yang termasuk urusan duniawiyah karena Rasulullah shalallahu’alahi wasallam sendiri mengatakan bahwa untuk urusan duniawiyah kalian, maka kalian lebih mengetahuinya. Dan hal ini dikatakan sendiri oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam di dalam haditsnya:

إِذَا كَانَ شَىْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فَإِذَا كَانَ مِنْ أَمْر دِينِكُمْ فَإِلَىَّ

“Apabila itu adalah perkara dunia kalian, maka kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.”
(HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa sanad hadits ini hasan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *